Langit Bukan Untuk Sendja



Selamanya, hanyalah milik Tuhan. Kita semua tahu itu.
Tapi mengapa kita begitu mudah menjanjikan selamanya kepada pasangan kita ? bukankah selamanya itu waktu yang sangat lama ? bukankah selamanya itu tidak pernah tercapai oleh manusia ?
Makanya aku selalu berhati-hati, menghindar dari kata selamanya ketika berbicara cinta. Karena selamanya itu lama sekali.
Tapi sepandai apapun kita menghindari, akan datang suatu saat yang membuat kita harus menghadapi. Akan tiba saatnya berlari tak lagi menjadi solusi. Akan tiba saatnya bersembunyi tak lagi berarti.


Seperti aku yang harus menjawab pertanyaan Langit.
“Sendja, sebenarnya hubungan kita, pacaran ini mau dibawa ke mana? Would you marry me ? Seperti yang pernah aku bilang, aku selalu mendapatkan apa yang aku mau. Do we want same thing ? Tapi sampai kapan ?...atau kamu ingin menjadikanku kekasih gelap seumur hidupmu ?”
Haruskah aku menjawabnya ? aku tahu betul jawaban yang Langit inginkan adalah “aku ingin kita berdua selamanya”. Selesai.
Akan tetapi aku tak mampu menjawab pertanyaannya itu dengan satu kalimat pendek yang punya konsekuensi maha panjang. Hubungan kami ini lebih pantas disebut perselingkuhan. Aku sudah bertunangan dengan Arief,
seorang pria mapan hasil perjodohan keluarga, dan Langit sudah berkeluarga. Apa kata keluarga besarku nanti ?
Ketidakmampuan menjawab yang membuat acara makan malam kami minggu lalu menjadi berantakan luar biasa. Tidak, Langit tak lantas meninggalkanku di restoran sendirian. Bukan tipenya untuk melakukan itu. Langit tetap makan malam denganku, tetap berusaha bercanda. Tapi aku tahu dia terluka. Terlihat dari matanya. Dia masih bisa tersenyum walaupun aku bisa menangkap pedih yang samar di wajahnya.
Lalu segalanya berjalan seolah-olah seperti biasa. Tapi aku merasa ada yang berubah. Ada yang berbeda. Ada yang menggayuti setiap langkah. Menghantui kami.
Sampai suati hari, Langit muncul begitu saja di kantorku. Tanpa pengumuman, tanpa pemberitahuan.
“Mas Langit ? katanya Mas ke Makassar ada pelatihan hari ini?”
“Iya ada. Aku Cuma mampir mau ngasih ini ke kamu.”
Sebuah amplop putih berpindah tangan.
“Aku pergi dulu ya, maaf ga bisa mengantarmu pulang hari ini. wish me luck ya ! bye !” kata Langit sambil mencium keningku, lalu pergi begitu saja.
Aku tak sempat berkata apa-apa, tubuh Langit sudah menghilang dibalik pintu.
Jujur, aku sangat menyukai Langit. Aku suka caranya memperlakukanku. Aku selalu merindukannya, tapi Langit tidak usah tahu perasaan ini. Biarlah aku disebut gagal memiliki perasaan karena tidak mampu menggambarkan perasaan tersebut. Cinta ini cukup kusimpan di hati terdalam karena Sendja bukan untuk Langit.
Amplop putih memanggil-manggil, memintaku segera memeriksa apa yang terjadi di dalamnya. Untuk membongkar cerita yang tersimpan di balik putih bersihnya.
Sebuah surat, ditulis tangan. Tulisan Langit yang oops...sangat tidak beraturan dan sulit dibaca menghiasinya. Kapan terakhir kamu menerima surat cinta ? aku sendiri sudah tidak ingat lagi kapan. Mungkin zaman dulu, ketika telepon selular dan e-mail belum mengasai dunia. Ketika tulisan tangan mengantarkan kata mesra dan rindu. Ketika pertemuan tidak semudah menekan mouse.
Surat cinta yang pertama setelah sekian lama.
“Sendja, cintaku...
Jangan kaget. Jangan khawatir. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya ingin bercerita. Sebagian besar atau seluruhnya adalah cerita tentang aku. Cerita yang mungkin sudah kamu dengar sebagian atau potongan-potongannya. Penting buatku menceritakan ini kepadamu, supaya kamu mengerti perasaanku.
Sendja cintaku,
Aku dan Puri bertemu di awal karierku sebagai dokter hewan di Jogja. Dia baik sekali, sangat perhatian. Tadinya aku menganggap Puri biasa saja. Tidak ada sedikitpun keinginan untuk berpacaran apalagi menikah dengannya. Tapi ... dia begitu baik. Waktu ibuku sakit, Purilah yang merawatnya karena waktu itu aku dipindah tugaskan ke Turangga, Jawa Barat.
Mungkin karena perasaan berutang budi tersebut, ibu melamar Puri untukku. Aku tidak tahu perasaanku pada Puri. Aku bingung ketika harus menikah dengannya.
Aneh sekali bukan ?
Tapi kebingunganku tidak berlangsung lama. Ibu bilang “kamu tidak akan pernah tahu, sampai kamu menceburkan diri ke dalamnya. Tidak cuma mencelupkan kaki seperti yang kamu lakukan selama ini.”
Dan aku memutuskan untuk menceburkan diri ke dalam kolam perkawinan.
Waktu itu rasanya bahagia. Segalanya kelihatan indah-indah saja. Seandainya waktu itu kamu bertanya perasaanku pada Puri, mungkin aku akan menjawab “aku tidak tahu, tapi aku bahagia.”
Sampai ketika hari itu tiba. Hari ketika aku memasuki ruang pertemuan di kantormu. Hari di mana pertama kali kita bersalaman, saling memperkenalkan diri. Hari di mana aku menyadari ada yang salah dalam hidupku. Hari di mana aku menyadari ada perasaan yang tidak pernah aku rasakan.
Sendja cintaku,
Mungkin ini terdengar seperti cerita dongeng yang tidak pernah terjadi di dunia nyata. Tapi itulah yang terjadi padaku. Aku jatuh cinta ketika pertama kali mata kita bertemu. Aku jatuh cinta ketika kita baru saja bertukar nama.
Hari-hari setelah itu aku penuhi dengan berbagai usaha untuk membunuh perasaan ini. Membunuh rasa cinta yang pertama kali menyentuhku. Namun, semakin kuberusaha membunuhnya, semakin lebat akarnya melingkupi jantung dan menguasai hati.
Dan pertemuan kita yang semakin sering sangat tidak membantuku membunuh cinta terlarang ini. Ya, aku tahu saat itu kamu sudah bertunangan dan aku sudah beristeri. Tapi kenyataan tidak bisa membuat rasa itu mati Sendja. Malah semakin hari semakin kuat, membuatku tidak bisa bernafas setiap malam.
Puri tidak pernah tahu apa yang aku rasakan, dia terlalu mencintaiku untuk bisa melihat perubahan yang terjadi pada diriku.
Sungguh aku merasa sangat berdosa pada Puri. Wanita yang begitu baik telah aku khianati. Tapi aku tahu betul, bukan kehidupan bersamanya yang aku inginkan. Tidak ingin aku selamanya bersama Puri. Aku sudah menemukan siapa yang aku inginkan untuk hidup bersamaku Sendja, Kamu.
Aku mencium kaki ibu, meminta maaf padanya. Bukan karena perasaanku padamu, tapi karena aku tidak bisa mengemban amanahnya. Aku sudah membohonginya, membuatnya percaya bahwa aku mencintai Puri. Aku juga memohon kepada Puri untuk menceraikanku. Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan, melihat dua orang wanita yang begitu mencintaiku menangis pedih.
Dan kami pun bercerai. Aku tidak meminta apa-apa darinya. Aku tidak membawa apa-apa. Wanita itu terlalu baik untuk kusakiti lagi.
Bayangkan bagaimana perasaanku ketika kamu tiba-tiba memutuskan segala bentuk komunikasi. Bahkan kamu mengajukan permohonan untuk pindah tugas ke daerah lain, membuat segala pertemuan menjadi tidak akan mungkin. Lalu aku mendengar kamu akan segera menikah dengan Arief. Aku hancur sama sekali Sendja.
Sendja Mallongi, aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Langit”
Air mataku jatuh membaca surat itu. Apapun alasannya, aku sudah sukses menghancurkan rumah tangga orang lain, aku sudah melanggar aturanku sendiri. Dan ini sangat memalukan dalam adat manapun. Terutama aku yang terlahir sebagai wanita Bugis. Akan selalu ada karma.
Akh, persetan dengan semua itu. Sangat sulit menemukan orang yang mencintai dan menerima kita apa adanya. Lebih baik dicintai daripada mencintai bukan ?
Aku sekarang mengerti apa yang harus kulakukan. Aku harus perjuangkan cintaku. Aku mengambil kunci mobil dan bergegas pergi, bermaksud menyusul Langit. Tidak akan ada lagi beban pikiran setelah memberitahu perasaanku pada Langit.
“Kantor kok sepi banget ya ?” dasar Indonesian, kedisiplinan dalam bekerja terlalu rendah.
Di parkiran kulihat teman-teman kantor berkerumun membentuk kelompok-kelompok kecil. “pasti ada gosip gila” pikirku. Aku bergegas bergabung dengan mereka.
“halo semua...Ada gosip apa?”
Semua berbalik memandangku. Tak ada senyum di wajah mereka. Aku menjadi salah tingkah. Ada apa sebenarnya ?
“Ibu belum tahu tentang Pak Langit?” akhirnya seorang teman buka mulut masih dengan ekspresi dingin.
Waduh, kacau. Apa mereka sudah tahu perselingkuhanku dengan Langit ? mau ditaruh di mana muka ini ? rasanya ingin menghilang saja dari tempat itu andai ada tempat yang memungkinkan untuk bersembunyi. Akhirnya aku memaksakan mengerakkan kepala menggeleng seolah-olah tidak mengerti apapun.
“Pak Langit...kecelakaan dan kabarnya meninggal di TKP. Sekarang jenazahnya dalam perjalanan menuju RSUD untuk di otopsi”
“apaaa ....?” aku jatuh terduduk. Kedua kakiku tak mampu lagi menopang tubuhku yang mendadak lunglai tak berdaya.
                                                                          ***
Satu persatu pelayat meninggalkan pemakaman. Rasanya tak ingin meninggalkan Langit sendirian di makam sunyi ini. Rasanya ingin tetap di sini, berbagi kehangatan dengannya yang terbujur kaku di liang lahat. Ia pasti kedinginan di bawah sana, karena kehangatannya telah habis ia bagi denganku semasa hidupnya. Aku tersedu tanpa air mata. Air mata ini telah mengering dari kemarin.
“Langit, tega sekali kamu meninggalkan aku ? Seolah-olah kau tak butuh lagi jawaban atas pertanyaanmu selama ini. Apa kamu tidak mau tahu bahwa aku ingin bersamamu selamanya Langit ? maafkan aku tidak pernah jujur padamu...”
Aku baru menyadari kehadiran seorang wanita di sisiku. Entah sudah berapa lama ia berdiri memayungi aku. Apakah wanita itu mendengar ratapanku tadi ? akh, memalukan.
“See..? kau tidak akan pernah memilikinya. Dari awal sampai akhir Langit bukan untukmu Sendja. Sebuah akibat selalu barasal dari sebab. Tuhan selalu mengawasi tindakan kita. ‘hadiah’ dari setiap perbuatan bukan berarti hadiah yang sebenarnya, tetapi juga merupakan suatu ‘hukuman’ atas suatu perbuatan yang telah dilakukan. Hukum alam kadang-kadang sangat aneh dan sulit dipahami...” Dan ia pun berlalu. Menyisakan ribuan tanya di kepalaku.
“Siapa wanita itu ?” nisan Langit hanya diam membisu.

 
 
 
 
**Terima kasih kepada Nur Setyawan, drh atas segala motivasi dan inspirasinya.  maaf, dalam cerita ini dokter hewannya harus meninggal :)

 




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: