C'est La Vie!


C'est La Vie!
Hidup kadang membawa kita ke tempat tertinggi dan memberikan seluruh keindahan dunia yang dapat terlihat, udara yang begitu segar dengan hamparan pemandangan terluas yang pernah ada. Kali lainnya, hidup kemudian membawa kita jatuh dari tempat tertinggi itu, memberikan dentuman yang begitu kerasnya ke bumi, seketika terasa sesak karena sedikitnya udara yang dapat terhirup, yang ada hanyalah, keredupan.
and That's Life!
Bukan hanya persoalan bagaimana menjalani sebuah kehidupan, tapi juga persoalan bagaimana menghadapi kehidupan itu sendiri, dengan konsekuensi tertentu, dengan resiko tertentu. Siap menghadapi hal-hal apa-apa saja yang mungkin akan terjadi di kemudian hari, dan tidak terjebak dalam labirin yang nampaknya dibuat sendiri oleh yang menjalani kehidupan itu sendiri.
But it's so pathetic!
Bagi siapapun yang bangun di suatu pagi, dan menemukan pikirannya masih bertumpu pada seseorang atau sesuatu yang sama seperti di pagi-pagi lainnya, dan merasa itu semua menyesakkan. Pathetic. Kenyataannya adalah, hidup adalah soal bagaimana menerima dan menjalani resiko yang telah ada. What life that you wanna live in kalo masih tersesat dalam labirin ketidakpastian? Jalan mana yang ingin kamu tuju? menikmati jalan-jalan buntu dalam labirin ketidakpastian? Sengaja mencari jalan lain agar kamu tidak keluar dari labirin itu? Atau mulai berfikir untuk mencari jalan keluar? Don't just say it, then do it. But, it's your life, it's your choice.
seperti aku hari ini
dan hari hari sebulan terakhir ini 
tiba-tiba saja bersahabat baik dengan rasa malas
bahkan shalat subuhku pun kadang dikerjakan jam 7 pagi
sepertinya ada yang salah dalam hidupku tapi aku belum menyadari penyebabnya apa.
lihat saja kondisi dan penampakan meja kerjaku di foto ini :
kelihatan ramai dan begitu ramah...
 "I need something sweet to balance my mind":mikir: :mikir: :mikir: :mikir: :mikir:

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

911-ku Telah Pergi...

Ini adalah awal Nopember 2010.  Prajabatan Angkatan 3 dan 4 baru saja ditutup. Rasa lelah memaksaku segera berkemas meninggalkan Balai Latihan Kerja tempat aku dan 70 teman seangkatanku mengikuti prajabatan untuk calon pegawai negeri sipil.
Menghela nafas panjang, aku menunduk melihat arloji hitam yang melingkari pergelangan tanganku.  Jam lima sore. Sudah hampir senja, namun panas mentari masih terasa begitu membakar di kulit. Aku memutuskan menunggu angkutan kota di halte saja.
Setiap kali berada di halte ini, bayangan Arul selalu muncul di benakku.  Halte ini menjadi saksi pertemuanku dengan Arul.  Awal September tahun lalu ketika menerima SK CPNS Pertama kami.
Ini aneh...
Aku tidak pernah sungguh-sungguh mengenalnya.  Bahkan nama Lengkap Arul pun baru aku ketahui setelah mencari tahu tentangnya tadi di panitia.  Kisah yang ia tawarkan semacam perih yang memenjara.  Lelaki  ini tiba - tiba berhasil membangun cerita pilu di antara hujan di sepanjang Nopemberku. 
Awal perkenalanku dengannya adalah di dunia maya.
Kami sama-sama lulus di kabupaten yang sama sebagai calon pegawai negeri sipil.
Walaupun hanya berinteraksi di dunia maya, Arul mengajariku tentang banyak hal.
Arul yang memperkenalkan facebook dan blog padaku…unforgettable
Setiap aku terbentur masalah IT Arul lah 911-ku :(
  
Sejak aku punya banyak teman di jejaring social facebook, Arul menjadi terlupakan.
Aku tidak pernah lagi meminta bantuannya, aku tidak lagi mau tahu tentangnya, aku terlalu sibuk dengan teman-teman baruku.
Hingga hari ini aku menemukan kenyataan bahwa 911-ku itu telah tiada :’(
Pantas saja Arul tidak pernah menghubungiku lagi, mengabarkan tentang prajabatan kami dan lain-lain.
Terakhir kali berinteraksi dengannya di facebook 17 April 2010. Aku ingat sekali komentar jahilku di statusnya “lelah dengan kehidupan ini” aku berkomentar “mati aja lo…”
Ya Allah..teman macam apa aku ini…??
Menurut teman-teman yang mengenalnya, Arul kecelakaan dan tewas di TKP tanggal 20 Mei 2010.  Pantas aku tidak tahu karena waktu itu aku lagi di Bogor.
Arul,
Kamu salah satu teman terbaik yang pernah aku punya,
Hari bahagia ini tidak bisa kita rayakan bersama lagi seperti dulu pada saat menerima SK yang sekian lama kita tunggu-tunggu.
Arul,
Tidak banyak yang bisa aku kenang tentangmu, tapi semua tentangmu membekas begitu dalam dikehidupan aku.
* Tidak akan pernah terlupakan*
Aku ingin bersiarah ke peristrahatanmu tapi rumah orangtuamu pun aku tidak tahu L
Hanya do’a tulus dan fateha yang bisa kukirim buatmu
Semoga kamu menikmati kehidupan barumu…
Sungguh tidak menyangka kalau pertemuanku di halte September 2010 lalu menjadi copydarat yang pertama dan terakhirku dengan dia…

Darimu aku belajar untuk menghargai apa yang aku miliki sekarang,
                                                         Teman-teman yang luar biasa…

Aku tidak ingin mereka meninggalkanku tanpa pamit…seperti kamu
Kepergianmu benar-benar membuat aku shock…
Maafkan aku…


~mengenang ANDI FACHRUL PARENRENGI,S.KOM~




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

He's Back


Makassar, midnight of April17th 2010
Dingin2 begini bawaannya melowwwww sangad *jadi pengen nulis tentang kisah klasik*
Kemarin siang aku menerima telpon dari seorang pria di Kaltim.  Dimulai dari obrolan basa basi, perkenalan ... and surprise... ternyata dia teman Sekolah di SD ku yang kedua.
Astaga...jadi sebenarnya dia sudah tau aku *kesel juga dikerjain*
Setelah ngalor ngidul selama sejam, akhirnya dia ngaku bernama OZHA.
OZHA ?? nama yang sangat asing di telingaku sekarang *Jaman SD gitu lho*  Di SD ku yang kedua berarti sekitar tahun 1990-1991.  Akh... Ozha yang mana yak ?!  *pasti dia orang yg sangat biasa2 sj dan ga menarik perhatianku jaman itu*

Baru kali ini aku tidak bisa mengingat seseorang...
Khhhheeee....apa dia salah seorang diantara 1200 teman di dunia maya yang sedang kujelajahi ?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SENJA YANG PUTIH

 S
enja masih saja seperti kemarin, kuning kemerahan dengan sedikit bias violet kebiruan.  Aku tidak bisa memastikan akan berwana apa senja esok hari. Mungkin esok senja akan berwarna putih, hitam atau tak lagi kuning atau kemerahan.  Entahlah...hanya Tuhan yang Tahu.
Aku tidak paham apa itu nebula dan lubang hitam.  Aku tidak paham tentang orion dan quintuplet, Aku tidak paham apa itu alpha centauri.  Yang aku tahu aku sangat mengagumi  cara Tuhan dalam menyambut malam.  Dan itu cukup alasan bagiku.
Aku selalu berharap, senja esok hari membawa perubahan yang lebih baik, karena aku sangat mengaguminya. Sudah begitu banyak keluh kesah yang kusampaikan padanya.  Apakah menyangkut hubunganku dengan sesama manusia ataupun masalah dengan diriku sendiri. Ia memang tidak pernah menjawab ataupun memberi solusi, namun aku selalu menemukan kehangatan dan kebahagiaan bathin tatkala beradu mata dengannya. Aku tidak menjadikannya berhala-ku, akan tetapi begitulah caraku mengaguminya. Aku ...
“Maha...! kamu baik-baik saja kan sayang?” teriakan mama di balik pintu kamar









membuyarkan kekagumanku.
Aku hampir lupa bahwa sebentar lagi aku akan menjalani operasi
Aku duduk di kusen jendela menanti matahari senja melalui view jendela kamar.  Kegiatan ini rutin kulakukan sejak lima bulan terakhir.  Aku tidak mau melewatkan senja setiap harinya.  Aku takut tidak bisa melihatnya lagi esok hari.
“Memang harus operasi ya ma ?” Aku tertunduk menahan haru.
 “jangan terlalu dipikirkan.... insya Allah semuanya akan berjalan lancar mama merangkul bahuku memberi semangat.
“iya ma, doakan Maha ya”.
***
Sepuluh bulan lalu, aku divonis menderita kanker payudara.  Benjolan sebesar biji jerawat yang semula diduga sebagai iritasi ringan karena mammogram (foto sinar-x payudara)-ku cerah, dokter mengobatinya dengan antibiotik untuk infeksi. Setelah dua kali pengobatan, hal itu berlangsung menjadi lebih buruk, jadi dokter mengirimku untuk difoto x-ray lagi. Kali itu mammogram-nya menunjukkan suatu gumpalan. Oleh biopsi didapati suatu penumbuhan yang bersifat ganas. Chemo (terapi kimia) dimulai untuk menciutkan perkembangan gumpalan itu, lalu dilakukan pembedahan (mastectomy), kemudian terapi kimia sepenuhnya, lalu radiasi. Kira-kira setelah enam bulan pengobatan intensif, aku diberi surat keterangan sehat.
Aku beraktivitas seperti biasa.
Tapi ada yang berbeda.  Beberapa teman kantor menjauhi aku.  Dan yang paling menyakitkan, Eza kekasihku memutuskanku dengan alasan akan melanjutkan kuliah ke kota lain.  Sungguh alasan yang tidak masuk akal.  Aku tahu mereka jijik padaku. Dan Eza takut aku tidak akan mampu membahagiakannya kelak.
***
Senja, apakah engkau juga akan meninggalkanku seperti mereka ?
Memang tidak ada yang abadi di dunia ini.  Pertemanan, Persahabatan, dan apapun bentuk relationship lainnya.  Yang abadi hanyalah kepentingan di dalamnya.  Beruntungnya, karena aku dianugrahi keluarga.  Keluarga adalah kekuatanku. Tidak perduli aku sehat, kaya, ataupun punya jabatan penting.  Keluarga selalu ada untuk aku.
Aku hidup sehat penuh setiap hari dalam kualitas hidup, bukan setelah efek Chemo. Aku memiliki waktu lima bulan dan aku merencanakan tiap detail dari akhir hidupku. Setelah beberapa hari hidup dengan membutuhkan morphine, aku akan mati.
Kecuali payudaraku diangkat. Itupun masih fifty fifty aku akan hidup. Kalaupun bertahan hidup, jelas hidupku tidak akan senormal dulu.  Lihatlah, aku sudah kehilangan beberapa orang dalam hidupku.  Lelaki mana yang mau menikah dengan wanita yang tak berpayudara ?  Satu dari seribu pria ?
Tidak, aku akan berusaha untuk tetap bersemangat.  Aku akan hidup untuk orang-orang yang mencitai aku.  Dan untukmu Senja.  Kamu pasti tidak ingin kehilangan seorang penggemar bukan ?”.
***
Hari senin.  Tiga hari sebelum aku menjalani operasi pengangkatan payudara. Kali itu aku sudah siap kehilangan pekerjaan. Dengan surat pengunduran diri di tangan, aku melangkah dengan mantap memasuki ruangan Pak Nathan-owner perusahaan tempatku bekerja.  Aku merasa tidak perlu lagi mengulang-ulang alasan mengapa aku harus mengundurkan diri.  Cukup dengan sebuah senyum dan basa-basi permohonan maaf tidak bisa lagi bergabung dengan mereka.
Akhirnya, aku benar-benar melepaskan karir yang selama hampir tujuh tahun aku geluti.
Aku berjalan gontai menyusuri koridor menuju parkiran.  Di ujung koridor, aku menemukan Eza sedang  bermesraan dengan seorang wanita yang sangat aku kenal.  Shanty?
“Bukankah itu Shanty ?” aku menutup mulut tak percaya. Serasa ada yang merampok udara dalam rongga dadaku.  Aku terpaku dalam ringis. Shanty adalah sekretarisku dulu waktu masih bekerja.  Kabar yang aku dengar Shanty-lah yang akan menggantikan posisiku setelah aku resign.  Takdir ini terlalu menyakitkan ! Shanty tidak hanya mengambil alih jabatanku tetapi juga menggantikan aku di hati Eza.
Tidak akan adalagi Maha, sang manager perusahaan yang dikagumi banyak orang.  Tidak ada lagi Maha, wanita cantik yang diidamkan banyak pria.  Aku meringis pilu mengingat semua kekaguman yang berangsur hilang dari kehidupanku.  Kecantikan, Karir, kekasih, sahabat, dan sebentar lagi kedua payudaraku akan ikut hilang.
Tanpa komando, bulir-bulir hangat membanjiri pelupuk mataku. Ini sungguh tidak adil !
Mengapa Tuhan begitu kejam dalam memberikan aku peran ? Andai saja aku bisa meminta bertukar peran dengan Shanty.
Aku menyandarkan punggungku ke dinding koridor.  Aku tidak ingin mereka melihatku menangis bodoh seperti ini.
Akh, mengapa aku harus merasa lemah begini Tuhan? Aku sungguh tidak mengerti rencanaMu ...
***
Menanti menit-menit yang sangat menentukan dalam hidupku.
Aku terpaku menatap bayanganku di cermin.  Aku tampak begitu anggun dengan kostum pasien berwarna hijau gelap dari wardrobe rumah sakit-sangat kontras dengan kulit wajahku yang kian pasi.
Aku belum punya rencana apapun jika operasiku berhasil.  Lalu ... jika gagal ?
Mendadak aku menggigil.  Sebelah kakiku memang masih menapak di bumi, namun sebelah yang lain sudah berada di dunia lain.
Aku belum lagi mati, namun kesunyian sudah teramat mencekam di bilik isolasi ini.  Tiada sesiapa di sini kecuali tubuh-tubuh tak berdaya yang belum siuman dari pengaruh obat bius.
Seorang perawat menuntunku menuju pembaringan.  Kemudian aku di suntik.  Tak semenit kemudian, semuanya menjadi putih.
Sebelum aku beradu akting dengan para dokter di meja operasi, aku ingin melafalkan dialogku sekali lagi.
“ma, aku masih ingin melihat matahari senja esok hari ...”
Hidup bukanlah cerita pendek picisan ataupun roman noir yang mengisahkan hal-hal di luar batas logika konvensional dengan sebuah penyelesaian yang khas, yaitu lewat konflik yang akhirnya dibuat selesai secara  menggembirakan.
Hidup ini adalah skenario kisah penuh misteri yang disutradarai oleh Tuhan.  Akan tetapi hidup bukanlah hasil editing yang seenaknya bisa di cut pada scene-scene yang tidak diinginkan.  Tuhan adalah sutradara yang kejam ?  Bukan !.  Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambanya.
Aku yakin, Tuhan melihat mama berdiri cemas penuh harap di luar sana.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Puriwati Purasari Andono


Sarapan dua porsi nasi goreng tadi pagi tak berpengaruh sama sekali dalam mensuplai energi pada tubuhku, aku lemas tak bertenaga, lunglai, sakit hati, kecewa, merasa bodoh dan terbelakang serta tertipu mentah-mentah !

Baru saja aku googling mencari inspirasi untuk cerpenku tentang penderita kanker payudara. Aku teringat sebuah nama, Puri… teman facebook yang pernah menderita kanker payudara. Dia adalah sosok pesakit yang sangat bersemangat menjalani sisa hidupnya setelah divonis menderita kanker payudara. Aku selalu mengikuti notes2 cerita hidup dan semangatnya di fb, aku selalu di tag (sebagai teman baik), aku dan beberapa teman selalu memberinya semangat. Walaupun aku sering skeptic dengan status2 cengengnya di fb, dia rajin kasih koment di statusku yang rada2 gokil. Akhirnya aku perduli pada sosok Puri.
Aku masih ingat, status terakhir yang ia buat "ma, memang harus opersi ya?" tanggal 27 Oktober 2009. kabarnya operasinya tanggal 28 Oktober 2009. Dan gagal ! Puri meninggal di meja operasi.
Dasar aku skeptic, aku baru tahu kabar kematiannya seminggu kemudian setelah membaca wallnya yang berisi ungkapan belasungkawa dari ratusan teman.
Aku memang bukan teman yang baik ! Aku terenyuh. Aku menangis untuknya. Banyak fateha kukirimkan seusai shalat. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk Puri.

Pertengahan November 2009, akun facebook Puri telah dinonaktifkan.

Dan hari ini setelah hampir tiga bulan aku berduka untuknya,
Kuketik KISAH PURIWATI PURASARI ANDONO di mesin pencari Google.
Voilaaaaa….ternyata kisah Puri sudah lama dimuat di website kompasiana. Bukan hanya dimuat sebagai tulisan terbaik dan inspiratif tetapi juga penuh kecaman dan kontraversi. Mau tahu kenapa ?
Karena ternyata tokoh Puri adalah FIKTIF. Seorang dalang telah sukses melakukan pembohongan publik. Aku salah seorang korban penipuannya. Sang dalang berhasil mempermainkan logika dan perasaan banyak orang. Rasanya sakit sekali…

Two Thumbs up untuk Sang Dalang !


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Langit Bukan Untuk Sendja



Selamanya, hanyalah milik Tuhan. Kita semua tahu itu.
Tapi mengapa kita begitu mudah menjanjikan selamanya kepada pasangan kita ? bukankah selamanya itu waktu yang sangat lama ? bukankah selamanya itu tidak pernah tercapai oleh manusia ?
Makanya aku selalu berhati-hati, menghindar dari kata selamanya ketika berbicara cinta. Karena selamanya itu lama sekali.
Tapi sepandai apapun kita menghindari, akan datang suatu saat yang membuat kita harus menghadapi. Akan tiba saatnya berlari tak lagi menjadi solusi. Akan tiba saatnya bersembunyi tak lagi berarti.


Seperti aku yang harus menjawab pertanyaan Langit.
“Sendja, sebenarnya hubungan kita, pacaran ini mau dibawa ke mana? Would you marry me ? Seperti yang pernah aku bilang, aku selalu mendapatkan apa yang aku mau. Do we want same thing ? Tapi sampai kapan ?...atau kamu ingin menjadikanku kekasih gelap seumur hidupmu ?”
Haruskah aku menjawabnya ? aku tahu betul jawaban yang Langit inginkan adalah “aku ingin kita berdua selamanya”. Selesai.
Akan tetapi aku tak mampu menjawab pertanyaannya itu dengan satu kalimat pendek yang punya konsekuensi maha panjang. Hubungan kami ini lebih pantas disebut perselingkuhan. Aku sudah bertunangan dengan Arief,
seorang pria mapan hasil perjodohan keluarga, dan Langit sudah berkeluarga. Apa kata keluarga besarku nanti ?
Ketidakmampuan menjawab yang membuat acara makan malam kami minggu lalu menjadi berantakan luar biasa. Tidak, Langit tak lantas meninggalkanku di restoran sendirian. Bukan tipenya untuk melakukan itu. Langit tetap makan malam denganku, tetap berusaha bercanda. Tapi aku tahu dia terluka. Terlihat dari matanya. Dia masih bisa tersenyum walaupun aku bisa menangkap pedih yang samar di wajahnya.
Lalu segalanya berjalan seolah-olah seperti biasa. Tapi aku merasa ada yang berubah. Ada yang berbeda. Ada yang menggayuti setiap langkah. Menghantui kami.
Sampai suati hari, Langit muncul begitu saja di kantorku. Tanpa pengumuman, tanpa pemberitahuan.
“Mas Langit ? katanya Mas ke Makassar ada pelatihan hari ini?”
“Iya ada. Aku Cuma mampir mau ngasih ini ke kamu.”
Sebuah amplop putih berpindah tangan.
“Aku pergi dulu ya, maaf ga bisa mengantarmu pulang hari ini. wish me luck ya ! bye !” kata Langit sambil mencium keningku, lalu pergi begitu saja.
Aku tak sempat berkata apa-apa, tubuh Langit sudah menghilang dibalik pintu.
Jujur, aku sangat menyukai Langit. Aku suka caranya memperlakukanku. Aku selalu merindukannya, tapi Langit tidak usah tahu perasaan ini. Biarlah aku disebut gagal memiliki perasaan karena tidak mampu menggambarkan perasaan tersebut. Cinta ini cukup kusimpan di hati terdalam karena Sendja bukan untuk Langit.
Amplop putih memanggil-manggil, memintaku segera memeriksa apa yang terjadi di dalamnya. Untuk membongkar cerita yang tersimpan di balik putih bersihnya.
Sebuah surat, ditulis tangan. Tulisan Langit yang oops...sangat tidak beraturan dan sulit dibaca menghiasinya. Kapan terakhir kamu menerima surat cinta ? aku sendiri sudah tidak ingat lagi kapan. Mungkin zaman dulu, ketika telepon selular dan e-mail belum mengasai dunia. Ketika tulisan tangan mengantarkan kata mesra dan rindu. Ketika pertemuan tidak semudah menekan mouse.
Surat cinta yang pertama setelah sekian lama.
“Sendja, cintaku...
Jangan kaget. Jangan khawatir. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya ingin bercerita. Sebagian besar atau seluruhnya adalah cerita tentang aku. Cerita yang mungkin sudah kamu dengar sebagian atau potongan-potongannya. Penting buatku menceritakan ini kepadamu, supaya kamu mengerti perasaanku.
Sendja cintaku,
Aku dan Puri bertemu di awal karierku sebagai dokter hewan di Jogja. Dia baik sekali, sangat perhatian. Tadinya aku menganggap Puri biasa saja. Tidak ada sedikitpun keinginan untuk berpacaran apalagi menikah dengannya. Tapi ... dia begitu baik. Waktu ibuku sakit, Purilah yang merawatnya karena waktu itu aku dipindah tugaskan ke Turangga, Jawa Barat.
Mungkin karena perasaan berutang budi tersebut, ibu melamar Puri untukku. Aku tidak tahu perasaanku pada Puri. Aku bingung ketika harus menikah dengannya.
Aneh sekali bukan ?
Tapi kebingunganku tidak berlangsung lama. Ibu bilang “kamu tidak akan pernah tahu, sampai kamu menceburkan diri ke dalamnya. Tidak cuma mencelupkan kaki seperti yang kamu lakukan selama ini.”
Dan aku memutuskan untuk menceburkan diri ke dalam kolam perkawinan.
Waktu itu rasanya bahagia. Segalanya kelihatan indah-indah saja. Seandainya waktu itu kamu bertanya perasaanku pada Puri, mungkin aku akan menjawab “aku tidak tahu, tapi aku bahagia.”
Sampai ketika hari itu tiba. Hari ketika aku memasuki ruang pertemuan di kantormu. Hari di mana pertama kali kita bersalaman, saling memperkenalkan diri. Hari di mana aku menyadari ada yang salah dalam hidupku. Hari di mana aku menyadari ada perasaan yang tidak pernah aku rasakan.
Sendja cintaku,
Mungkin ini terdengar seperti cerita dongeng yang tidak pernah terjadi di dunia nyata. Tapi itulah yang terjadi padaku. Aku jatuh cinta ketika pertama kali mata kita bertemu. Aku jatuh cinta ketika kita baru saja bertukar nama.
Hari-hari setelah itu aku penuhi dengan berbagai usaha untuk membunuh perasaan ini. Membunuh rasa cinta yang pertama kali menyentuhku. Namun, semakin kuberusaha membunuhnya, semakin lebat akarnya melingkupi jantung dan menguasai hati.
Dan pertemuan kita yang semakin sering sangat tidak membantuku membunuh cinta terlarang ini. Ya, aku tahu saat itu kamu sudah bertunangan dan aku sudah beristeri. Tapi kenyataan tidak bisa membuat rasa itu mati Sendja. Malah semakin hari semakin kuat, membuatku tidak bisa bernafas setiap malam.
Puri tidak pernah tahu apa yang aku rasakan, dia terlalu mencintaiku untuk bisa melihat perubahan yang terjadi pada diriku.
Sungguh aku merasa sangat berdosa pada Puri. Wanita yang begitu baik telah aku khianati. Tapi aku tahu betul, bukan kehidupan bersamanya yang aku inginkan. Tidak ingin aku selamanya bersama Puri. Aku sudah menemukan siapa yang aku inginkan untuk hidup bersamaku Sendja, Kamu.
Aku mencium kaki ibu, meminta maaf padanya. Bukan karena perasaanku padamu, tapi karena aku tidak bisa mengemban amanahnya. Aku sudah membohonginya, membuatnya percaya bahwa aku mencintai Puri. Aku juga memohon kepada Puri untuk menceraikanku. Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan, melihat dua orang wanita yang begitu mencintaiku menangis pedih.
Dan kami pun bercerai. Aku tidak meminta apa-apa darinya. Aku tidak membawa apa-apa. Wanita itu terlalu baik untuk kusakiti lagi.
Bayangkan bagaimana perasaanku ketika kamu tiba-tiba memutuskan segala bentuk komunikasi. Bahkan kamu mengajukan permohonan untuk pindah tugas ke daerah lain, membuat segala pertemuan menjadi tidak akan mungkin. Lalu aku mendengar kamu akan segera menikah dengan Arief. Aku hancur sama sekali Sendja.
Sendja Mallongi, aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Langit”
Air mataku jatuh membaca surat itu. Apapun alasannya, aku sudah sukses menghancurkan rumah tangga orang lain, aku sudah melanggar aturanku sendiri. Dan ini sangat memalukan dalam adat manapun. Terutama aku yang terlahir sebagai wanita Bugis. Akan selalu ada karma.
Akh, persetan dengan semua itu. Sangat sulit menemukan orang yang mencintai dan menerima kita apa adanya. Lebih baik dicintai daripada mencintai bukan ?
Aku sekarang mengerti apa yang harus kulakukan. Aku harus perjuangkan cintaku. Aku mengambil kunci mobil dan bergegas pergi, bermaksud menyusul Langit. Tidak akan ada lagi beban pikiran setelah memberitahu perasaanku pada Langit.
“Kantor kok sepi banget ya ?” dasar Indonesian, kedisiplinan dalam bekerja terlalu rendah.
Di parkiran kulihat teman-teman kantor berkerumun membentuk kelompok-kelompok kecil. “pasti ada gosip gila” pikirku. Aku bergegas bergabung dengan mereka.
“halo semua...Ada gosip apa?”
Semua berbalik memandangku. Tak ada senyum di wajah mereka. Aku menjadi salah tingkah. Ada apa sebenarnya ?
“Ibu belum tahu tentang Pak Langit?” akhirnya seorang teman buka mulut masih dengan ekspresi dingin.
Waduh, kacau. Apa mereka sudah tahu perselingkuhanku dengan Langit ? mau ditaruh di mana muka ini ? rasanya ingin menghilang saja dari tempat itu andai ada tempat yang memungkinkan untuk bersembunyi. Akhirnya aku memaksakan mengerakkan kepala menggeleng seolah-olah tidak mengerti apapun.
“Pak Langit...kecelakaan dan kabarnya meninggal di TKP. Sekarang jenazahnya dalam perjalanan menuju RSUD untuk di otopsi”
“apaaa ....?” aku jatuh terduduk. Kedua kakiku tak mampu lagi menopang tubuhku yang mendadak lunglai tak berdaya.
                                                                          ***
Satu persatu pelayat meninggalkan pemakaman. Rasanya tak ingin meninggalkan Langit sendirian di makam sunyi ini. Rasanya ingin tetap di sini, berbagi kehangatan dengannya yang terbujur kaku di liang lahat. Ia pasti kedinginan di bawah sana, karena kehangatannya telah habis ia bagi denganku semasa hidupnya. Aku tersedu tanpa air mata. Air mata ini telah mengering dari kemarin.
“Langit, tega sekali kamu meninggalkan aku ? Seolah-olah kau tak butuh lagi jawaban atas pertanyaanmu selama ini. Apa kamu tidak mau tahu bahwa aku ingin bersamamu selamanya Langit ? maafkan aku tidak pernah jujur padamu...”
Aku baru menyadari kehadiran seorang wanita di sisiku. Entah sudah berapa lama ia berdiri memayungi aku. Apakah wanita itu mendengar ratapanku tadi ? akh, memalukan.
“See..? kau tidak akan pernah memilikinya. Dari awal sampai akhir Langit bukan untukmu Sendja. Sebuah akibat selalu barasal dari sebab. Tuhan selalu mengawasi tindakan kita. ‘hadiah’ dari setiap perbuatan bukan berarti hadiah yang sebenarnya, tetapi juga merupakan suatu ‘hukuman’ atas suatu perbuatan yang telah dilakukan. Hukum alam kadang-kadang sangat aneh dan sulit dipahami...” Dan ia pun berlalu. Menyisakan ribuan tanya di kepalaku.
“Siapa wanita itu ?” nisan Langit hanya diam membisu.

 
 
 
 
**Terima kasih kepada Nur Setyawan, drh atas segala motivasi dan inspirasinya.  maaf, dalam cerita ini dokter hewannya harus meninggal :)

 




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perburuan Cinta

Mereka pada akhirnya menemukanku di sebuah subuh tepat sebelum aku tak akan bisa mereka temukan lagi. Tepat sebelum aku benar-benar berangkat. Mereka begitu gembira, aku bisa merasakannya, meski tak kuasa menghapus rasa lelah dan putus asa di wajah. Mereka meringkusku dengan tenaga penghabisan, dengan dendam yang lebih menyerupai demam. dengan tali yang hampir-hampir tak bisa digunakan lagi. Tapi mereka berhasil menangkapku. Aku tak bisa melepaskan diri. 'Aku sekarat', menjadi sebuah kalimat yang belum sempat terucap.

-gunawan maryanto-

*sangat menyukai tulisan di atas, kalimatnya sederhana namum sangat tajam

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS