SENJA YANG PUTIH

 S
enja masih saja seperti kemarin, kuning kemerahan dengan sedikit bias violet kebiruan.  Aku tidak bisa memastikan akan berwana apa senja esok hari. Mungkin esok senja akan berwarna putih, hitam atau tak lagi kuning atau kemerahan.  Entahlah...hanya Tuhan yang Tahu.
Aku tidak paham apa itu nebula dan lubang hitam.  Aku tidak paham tentang orion dan quintuplet, Aku tidak paham apa itu alpha centauri.  Yang aku tahu aku sangat mengagumi  cara Tuhan dalam menyambut malam.  Dan itu cukup alasan bagiku.
Aku selalu berharap, senja esok hari membawa perubahan yang lebih baik, karena aku sangat mengaguminya. Sudah begitu banyak keluh kesah yang kusampaikan padanya.  Apakah menyangkut hubunganku dengan sesama manusia ataupun masalah dengan diriku sendiri. Ia memang tidak pernah menjawab ataupun memberi solusi, namun aku selalu menemukan kehangatan dan kebahagiaan bathin tatkala beradu mata dengannya. Aku tidak menjadikannya berhala-ku, akan tetapi begitulah caraku mengaguminya. Aku ...
“Maha...! kamu baik-baik saja kan sayang?” teriakan mama di balik pintu kamar









membuyarkan kekagumanku.
Aku hampir lupa bahwa sebentar lagi aku akan menjalani operasi
Aku duduk di kusen jendela menanti matahari senja melalui view jendela kamar.  Kegiatan ini rutin kulakukan sejak lima bulan terakhir.  Aku tidak mau melewatkan senja setiap harinya.  Aku takut tidak bisa melihatnya lagi esok hari.
“Memang harus operasi ya ma ?” Aku tertunduk menahan haru.
 “jangan terlalu dipikirkan.... insya Allah semuanya akan berjalan lancar mama merangkul bahuku memberi semangat.
“iya ma, doakan Maha ya”.
***
Sepuluh bulan lalu, aku divonis menderita kanker payudara.  Benjolan sebesar biji jerawat yang semula diduga sebagai iritasi ringan karena mammogram (foto sinar-x payudara)-ku cerah, dokter mengobatinya dengan antibiotik untuk infeksi. Setelah dua kali pengobatan, hal itu berlangsung menjadi lebih buruk, jadi dokter mengirimku untuk difoto x-ray lagi. Kali itu mammogram-nya menunjukkan suatu gumpalan. Oleh biopsi didapati suatu penumbuhan yang bersifat ganas. Chemo (terapi kimia) dimulai untuk menciutkan perkembangan gumpalan itu, lalu dilakukan pembedahan (mastectomy), kemudian terapi kimia sepenuhnya, lalu radiasi. Kira-kira setelah enam bulan pengobatan intensif, aku diberi surat keterangan sehat.
Aku beraktivitas seperti biasa.
Tapi ada yang berbeda.  Beberapa teman kantor menjauhi aku.  Dan yang paling menyakitkan, Eza kekasihku memutuskanku dengan alasan akan melanjutkan kuliah ke kota lain.  Sungguh alasan yang tidak masuk akal.  Aku tahu mereka jijik padaku. Dan Eza takut aku tidak akan mampu membahagiakannya kelak.
***
Senja, apakah engkau juga akan meninggalkanku seperti mereka ?
Memang tidak ada yang abadi di dunia ini.  Pertemanan, Persahabatan, dan apapun bentuk relationship lainnya.  Yang abadi hanyalah kepentingan di dalamnya.  Beruntungnya, karena aku dianugrahi keluarga.  Keluarga adalah kekuatanku. Tidak perduli aku sehat, kaya, ataupun punya jabatan penting.  Keluarga selalu ada untuk aku.
Aku hidup sehat penuh setiap hari dalam kualitas hidup, bukan setelah efek Chemo. Aku memiliki waktu lima bulan dan aku merencanakan tiap detail dari akhir hidupku. Setelah beberapa hari hidup dengan membutuhkan morphine, aku akan mati.
Kecuali payudaraku diangkat. Itupun masih fifty fifty aku akan hidup. Kalaupun bertahan hidup, jelas hidupku tidak akan senormal dulu.  Lihatlah, aku sudah kehilangan beberapa orang dalam hidupku.  Lelaki mana yang mau menikah dengan wanita yang tak berpayudara ?  Satu dari seribu pria ?
Tidak, aku akan berusaha untuk tetap bersemangat.  Aku akan hidup untuk orang-orang yang mencitai aku.  Dan untukmu Senja.  Kamu pasti tidak ingin kehilangan seorang penggemar bukan ?”.
***
Hari senin.  Tiga hari sebelum aku menjalani operasi pengangkatan payudara. Kali itu aku sudah siap kehilangan pekerjaan. Dengan surat pengunduran diri di tangan, aku melangkah dengan mantap memasuki ruangan Pak Nathan-owner perusahaan tempatku bekerja.  Aku merasa tidak perlu lagi mengulang-ulang alasan mengapa aku harus mengundurkan diri.  Cukup dengan sebuah senyum dan basa-basi permohonan maaf tidak bisa lagi bergabung dengan mereka.
Akhirnya, aku benar-benar melepaskan karir yang selama hampir tujuh tahun aku geluti.
Aku berjalan gontai menyusuri koridor menuju parkiran.  Di ujung koridor, aku menemukan Eza sedang  bermesraan dengan seorang wanita yang sangat aku kenal.  Shanty?
“Bukankah itu Shanty ?” aku menutup mulut tak percaya. Serasa ada yang merampok udara dalam rongga dadaku.  Aku terpaku dalam ringis. Shanty adalah sekretarisku dulu waktu masih bekerja.  Kabar yang aku dengar Shanty-lah yang akan menggantikan posisiku setelah aku resign.  Takdir ini terlalu menyakitkan ! Shanty tidak hanya mengambil alih jabatanku tetapi juga menggantikan aku di hati Eza.
Tidak akan adalagi Maha, sang manager perusahaan yang dikagumi banyak orang.  Tidak ada lagi Maha, wanita cantik yang diidamkan banyak pria.  Aku meringis pilu mengingat semua kekaguman yang berangsur hilang dari kehidupanku.  Kecantikan, Karir, kekasih, sahabat, dan sebentar lagi kedua payudaraku akan ikut hilang.
Tanpa komando, bulir-bulir hangat membanjiri pelupuk mataku. Ini sungguh tidak adil !
Mengapa Tuhan begitu kejam dalam memberikan aku peran ? Andai saja aku bisa meminta bertukar peran dengan Shanty.
Aku menyandarkan punggungku ke dinding koridor.  Aku tidak ingin mereka melihatku menangis bodoh seperti ini.
Akh, mengapa aku harus merasa lemah begini Tuhan? Aku sungguh tidak mengerti rencanaMu ...
***
Menanti menit-menit yang sangat menentukan dalam hidupku.
Aku terpaku menatap bayanganku di cermin.  Aku tampak begitu anggun dengan kostum pasien berwarna hijau gelap dari wardrobe rumah sakit-sangat kontras dengan kulit wajahku yang kian pasi.
Aku belum punya rencana apapun jika operasiku berhasil.  Lalu ... jika gagal ?
Mendadak aku menggigil.  Sebelah kakiku memang masih menapak di bumi, namun sebelah yang lain sudah berada di dunia lain.
Aku belum lagi mati, namun kesunyian sudah teramat mencekam di bilik isolasi ini.  Tiada sesiapa di sini kecuali tubuh-tubuh tak berdaya yang belum siuman dari pengaruh obat bius.
Seorang perawat menuntunku menuju pembaringan.  Kemudian aku di suntik.  Tak semenit kemudian, semuanya menjadi putih.
Sebelum aku beradu akting dengan para dokter di meja operasi, aku ingin melafalkan dialogku sekali lagi.
“ma, aku masih ingin melihat matahari senja esok hari ...”
Hidup bukanlah cerita pendek picisan ataupun roman noir yang mengisahkan hal-hal di luar batas logika konvensional dengan sebuah penyelesaian yang khas, yaitu lewat konflik yang akhirnya dibuat selesai secara  menggembirakan.
Hidup ini adalah skenario kisah penuh misteri yang disutradarai oleh Tuhan.  Akan tetapi hidup bukanlah hasil editing yang seenaknya bisa di cut pada scene-scene yang tidak diinginkan.  Tuhan adalah sutradara yang kejam ?  Bukan !.  Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambanya.
Aku yakin, Tuhan melihat mama berdiri cemas penuh harap di luar sana.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: